Itu Tetap Cinta Bukan

Meski tak memiliki dan terungkap, itu tetap cinta bukan.
            Pagi itu kelas masih sepi, udara-pun masih segar karena Satpam sekolah kami belum sempat memutarkan remot AC ke tiap-tiap kelas. Jam tanganku masih menunjukkan pukul 06.10 pagi, itu berarti saat ini pukul 06.00 pagi karena jam tanganku kelewatan 10 menit. Kuletakkan tas hitam ini dibangku deret 2 dari ujung barat urutan 2 dari depan. Jaket masih enggan kulepas karena dinginnya pagi menusuk hingga ke tulang. Aku beranjak keluar dari kelas untuk membeli sebotol air mineral didepan sekolah. Kulihat kanan kiri belum ada siswa yang hadir, bahkan petugas piket pun belum juga nampak. 

            Pagi itu kelas masih sepi, udara-pun masih segar karena satpam sekolah kami belum sempat memutarkan remot AC ke tiap-tiap kelas. Hayu memasuki kelas, ia letakkan tas putihnya pada bangku deret 2 dari ujung barat depan sendiri. Ia menengok jam dinding yang usang diufuk utara kelas, jarum pendek berada tepat pada angka 6 sedangkan jarum panjangnya masih tertinggal di angka 2. Ia menengok ke belakang, tas hitam terletak disana, itu artinya ada yang telah mendahuluinya diruangan itu. Tak lama kemudian datanglah Mawar, ia langsung mengambil tempat disamping Hayu. Setelah itu, Hayu mengeluarkan buku dan membacanya halaman demi halaman. Sedangkan Mawar membersihkan kelas sesuai jadwalnya piket.

Pagi itu udara masih sejuk, polusi belum sempat mengusiknya. Kanan kiri sawah memberikan pesonanya yang begitu indah. Aldi dengan seragam putih abu berselimutkan jas putih menawan itu terlihat sedang mendorong motornya. Bensinnya habis, padahal ia bermaksud berangkat lebih awal. Penjual bensin-pun belum buka, paling-paling setengah jam lagi.

Usai aku membeli air mineral, akupun kembali menuju kelas. Terhenti aku didepan kelas, menyaksikan Hayu terdiam dan ada Mawar yang menemaninya, sepertinya ia sedang bimbang. Tiba-tiba dari arah belakang datanglah Rony, senior dari kelas 11. Ia menatapku dengan sinis. Ia mendekati Hayu dan berbincang dengannya, Mawar pun keluar kelas.

Tiba-tiba terlintas dipikiranku, rupanya aku lupa membayar air mineral ini, lantas aku kembali ke toko itu. Setelah aku kembali, disana terlihat Rony keluar kelas dengan muka murung, aku tak paham. Langkahku kembali terhenti didepan kelas, disana Hayu menangis, disampingnya ada Mawar yang menenangkannya.

Jam menunjukkan pukul 07.00, kini udara sudah tak sesegar tadi, AC sudah menyala, kelas pun juga sudah penuh sesak. Jam pelajaran pertama sudah dimulai, namun sobat karibku rupanya belum juga hadir. Jam pelajaran pertama usai, namun kawanku itu nyatanya tak hadir juga. Didepan tempat duduk-ku rupanya Hayu masih terlihat sedih. Baru menjelang istirahat pertama Aldi datang, jas putih menawannya penuh dengan keringat. Rupanya dia kehabisan bensin dijalan.

Aldi, sahabat sejatiku. Seminggu ini tak pernah terlambat berangkat sekolah. Bahkan, ia biasanya mendahuluiku. Usahanya berangkat pagi bukan tanpa maksud, melainkan karena Hayu, wanita pujaannya. Hayu adalah tipe wanita yang rajin, jelas dia selalu berangkat lebih awal dari siswa-siswa lainnya. Kecuali hari ini, aku berhasil mendahuluinya berangkat lebih awal. Setiap aku bertemu dengan Aldi, pasti yang dibicarakannya adalah Hayu, tiap jam, menit, dia selalu bercerita tentangnya. Aldi itu benci dengan kakak kelas yang namanya Rony, menurutnya ia selalu berusaha mendekatai Hayu, saingan ceritanya.

Sepulang sekolah, Rony kembali ke kelasku. Ia kembali bertemu dengan Hayu, Aldi-pun langsung keluar dari kelas, sepertinya dia kesal. Kini aku mengerti, ternyata pagi tadi Hayu menangis bukan karena Rony, ternyata guru SD-nya meninggal. Sebenarnya Rony menjadi kerap berkunjung ke kelas kami dan sering berbincang dengan Hayu sejak 2 minggu lalu, baru kali ini aku mengerti, ternyata yang mereka bicarakan selama ini adalah mengumpulkan dana untuk biaya pengobatan gurunya itu,  rupanya  Ronny adalah kakak kelas Hayu ketika di SD juga.

Sebenarnya, pagi tadi aku kembali ke toko itu bukan karena lupa membayar air mineral, tetapi aku hanya menghindari Hayu dan Rony, aku pikir mereka ada relasi khusus. Sebenarnya aku juga suka Hayu, sama seperti Aldi. Namun, aku memilih untuk memendamnya dalam-dalam karena aku tak mau merusak hubungan persahabatanku dengan Aldi.

 Jika manusia adalah pohon, maka aku akan memilih menjadi daun. Menanti dengan setia tumbuhnya sosok bunga yang indah, lantas diterpa angin, perlahan jatuh dan menatap sosok bunga yang ditunggunya tadi bahagia. Santai, meski tak memiliki dan terungkap, itu tetap cinta bukan.
Previous
Next Post »
Thanks for your comment