Apem, Makanan Penghapus Dosa

Apem Beras
            La la la, aku sayang sekali, doraeemon. Lagu yang sering kita dengar ketika kecil, mungkin hingga sekarang. Ya, siapa yang tidak kenal dengan yang namanya Doraemon, robot kucing ajaib dari masa depan yang takut tikus dan gak suka dipanggil musang. Terus apa hubungannya dengan Apem!!! Jadi gini, Doraemon itu suka banget sama sebuah makanan yang namanya Dorayaki. Nah, makanan itu bentunya mirip banget sama kue yang namanya kue Apem, makanan yang sering kita temui di pasar-pasar tradisional.

            Apem, makanan tradisional yang katanya dari Indonesia. Sebenarnya, apem itu ada banyak sekali variasinya di Nusantara, kalau di Jogja ada apem jawa. Apem adalah kue berbentuk pipih kaya piring terbang, tapi warnanya coklat. Makanan ini terbuat dari bahan dasar tepung beras atau gandum yang dicampur  dengan tape singkong, ragi, gula pasir, air kelapa, santan, dan sedikit garam dalam sebuah adonan. Rasanya manis, lembut, gurih, dan ada asinnya dikit kayak kamu. Jadi, kalau ke Jogja jangan lupa ngicipi apemnya yang rasanya wah, nyesel deh kalau gak nyoba.

            Terpikirkan tidak sih dibenak teman-teman, dari mana asal kue ini dan bagaimana ceritanya kok bisa namanya Apem. Setelah kami kaji, ternyata kue ini tak hanya ada di Indonesia saja. Ternyata kue ini terdapat diberbagai belahan dunia. Di Malaysia dan Singapura kue ini dikenal dengan nama “Thosai” dan di India dikenal dengan nama Appam. Bagaimana sejarahnya Apem? Apa hubungannya dengan makanan pengampun dosa? Oke, mari kita simak lagi.

            Di India ada makanan yang mirip sekali dengan kue Apem, namanya kue Dosa. Kue ini memang bentuknya lebih mirip kayak crepes sih, tapi katanya rasanya sama dengan Apem. Kue ini telah ada sejak abad ke-6 sebelum masehi. Selain itu, disana juga ada kue bernama Appam, bentuknya hampir sama kayak Apem dan banyak variasinya. Kue Appam di tempat asalnya, yaitu Tamil, digunakan sebagai persembahan dalam upacara Hindu yang dikenal dengan persembahan untuk Dewa Ganesha. Maka dari itu, beberapa menyebutkan bahwa kue Apem sebenarnya berasal dari India. Tapi, sejarahnya Apem di Indonesia itu gimana ya? Oke, mari kita bahas lebih lanjut!!!.

            Menjelang bulan Ramadhan, di Jawa ada tradisi berama Megengan. Tradisi yang penuh akan makna-makna persaudaraan, sebuah tradisi saling memaafkaan. Kegiatan ini berlangsung setiap minggu terakhir bulan Sya’ban. Nama Megengan diambil dari bahasa Jawa, yaitu Megeng yang berarti nahan. Sehingga Megengan diartikan menahan diri, maksudnya untuk mengingatkan bahwa bulan Ramadhan sebentar lagi akan datang.

            Dalam Tradisi ini, setiap orang berkumpul dengan keluarganya untuk mendo’akan kedua orang tuanya. Seperti apa yang disampaikan Rasulullah SAW, bahwa ada 3 amalan yang tidak akan terputus hingga meninggal dunia. Setelah itu, orang-orang saling berbagi Apem kepada tetangganya. Apem berasal dari kata Afwan yang berarti maaf, maka dari itu dengan saling berbagi Apem, juga bermaksud saling memaafkan. Sebenarnya tak hanya Apem saja, melainkan ada 3 macam makanan yaitu, Ketan, Kolak, dan Apem. Ketan mengandung makna Khata’an yang berarti kesalahan, Kolak yang mengandung makna Khalaqo’ yang artinya pencipta, dan Apem yang mengandung makna afwan yaitu maaf. Maksudnya adalah agar kesalahannya diampuni oleh Allah SWT.

            Selain itu, Apem ternyata juga menjadi cikal bakal tradisi Ya Qawiyyu, yaitu tradisi berbagi kue Apem. Kisah ini bermula ketika Ki Ageng Gribig atau kita mengenalnya sebagai Sunan Geseng kembali ke Nusantara usai menjalankan ibadah Haji di Mekkah, beliau adalah murid dari Sunan Kalijaga. Sesampainya di tanah air, beliau melihat penduduk sekitar banyak yang kelaparan, tepatnya di Desa Jatinom daerah Klaten. Begitu dermawannya Sunan Geseng, beliau membuat kue Apem untuk penduduk di Desa itu. Setelah itu, beliau berkumpul dengan penduduk sekitar dan memberikan kue kepada mereka. Diakhir acara, beliau berdo’a “Ya qowiyu Yaa Aziz qowina wal muslimin, Ya qowiyyu warsuqna wal muslimin.” Yang artinya: “Ya Allah, berikanlah kekuatan kepada kita segenap kaum muslimin.” Kurang lebihnya begitu. Akhirnya, penduduk desa tersebut menjadi kenyang. Dari peristiwa itulah lahir tradisi yang dinamakan “Ya Qowiyyu”, yaitu tradisi berbagi kue Apem yang dihidupkan oleh penduduk sekitar.

            Wow, ternyata kue Apem ini makna filosofisnya keren banget ya. Makanya, kalau makan itu jangan cuma dikunyah terus ditelen, padahal kalau kita tahu makna-makna dari makanan itu, gak Cuma kenyang perutnya, tapi juga nambah ilmunya. Mungkin itu saja guys info dari kami guys. Makanya jangan kelewatan, tunggu update-an berikutnya, pasti lebih seru lagi. Okey, sekian dari saya, kalau ada kekurangan mohon maaf yang sebesar-besarnya. Jangan lupa dikomentarin ya, boleh saran boleh kritik. Wassalamualaikum.

Penulis,

Rizkibaldi Munada
Next
This is the current newest page
Previous
Next Post »
Thanks for your comment